Laman

Kamis, 18 April 2013

Hal Kacau Yang Masih Ada Di Jakarta Saat ini


Udah nyoblos demi nasib 10 juta penduduk Jakarta? Kabarnya sih satu suara kamu bisa mengubah nasib penduduk Jakarta lainnya. Apa benar? Tapi, mau siapapun gubernur Jakarta yang terpilih, mau berkumis atau berjambang, baju kotak-kotak maupun garis-garis, ada hal yang kayaknya sih belum akan berubah dari Jakarta. Apa saja ya?


TransJakarta tetap dikendarai Supir, Bukan Mesin
Jakarta boleh bangga punya sistem mass rapid transportation bernama Trans Jakarta yang punya jalur sendiri. Tapi, silakan bermimpi kalau mau Trans Jakarta lebih cepat dan nggak pakai nunggu lama dengan sistem mesin kayak MRT di Singapura atau Jepang. Kebayang nggak gubernur Jakarta harus bikin sistemnya dulu, terus percobaan sampai akhirnya benar-benar beroperasi butuh waktu berapa lama? Yang ada nanti nasibnya kayak monorail, dianggurin!


Bis Hobi Berhenti Sembarangan
Dari jaman presiden masih Soekarno sampe sekarang SBY, bus kota di ibukota tercinta ini punya kebiasaan buruk yang agak mustahil untuk diubah: yaitu kebiasaan mereka untuk berhenti di sembarang tempat. Ini sebenernya hal yang sangat rumit sih. Yang salah bukan cuma cuma mental pengemudinya, tapi juga mental penumpangnya. Coba kalo kamu naik metro mini. Seberapa sering kamu minta diturunin di halte? Ya kalo tujuan kamu emang deket halte aja kan. Kalo tujuan kamu jauh dari halte? Ya kamu minta diturunin deket tujuan kamu dong. Jadi sebenernya para penumpangnya juga fine-fine aja dengan bis berhenti sembarangan. Selain itu jalan-jalan di Jakarta juga kayaknya mendukung para bis ini untuk berhenti sembarangan gitu.


Pejalan Kaki Tetap Tertindas
Kamu bercita-cita bisa jalan kaki dengan nyaman di trotoar Jakarta sambil menikmati rimbunnya tanaman dan langit yang cerah. Terus bisa dengan tenang nyebrang jalanan tanpa ketakutan diserempet motor atau bajaj, rasanya kayak jalan di kota New York ya? Mungkin untuk yang satu ini masih jadi mimpi. Kamu tau dong trotoar di Jakarta kayak apa? Trotoar yang bagus, layak, dan bebas dari halangan di Jakarta itu masih terbatas banget. Sisanya? Pejalan kaki masih harus bersaing sama motor, pedagang kaki lima, dan pohon yang ditanam sembarangan. Butuh waktu yang lama banget sih buat ngebetulin semua ini. Jadi jangan terlalu banyak berharap lah.


Jalanan Protokol Tetap Ada 3 in 1
Layaknya shampoo atau kopi susu instan, 3 in 1 masih akan ngetren siapapun gubernurnya. Walaupun dianggap nggak efektif dan menimbulkan keresahan karena adanya joki, kayaknya gak ada gubernur yang akan benar-benar menghilangkan sistem 3 in 1 secepat itu. Kenapa? Soalnya sistem-sistem lain yang harusnya bisa digunakan untuk menggantikan 3 in 1 pastinya masih akan memakan waktu lama untuk diimplementasikan. Trus selama mencoba implementasi sistem baru tersebut gimana? Masa 3 in 1-nya mau dilepas dulu? Gak mungkin juga kan? Saran MBDC sih, mending kamu manfaatin aja 3 in 1 ini sebagai sarana nebeng gratis. Jadiin diri kamu sebagai joki gratis bagi temen kamu yang kebetulan emang butuh joki. Mayan kan, kamu dapet tebengan, temen kamu dapet joki. Sama-sama untung!


Monas Atasnya Tetep Terbuat dari Emas
Monas kebanggaan orang Jakarta. Konon karena emasnya aseli 24 karat! Sampai saat ini belum ada sih yang coba-coba manjat ke puncak Monas dan ambil sedikit emasnya buat dijadikan perhiasan. Sampai saat ini juga belum ada sih gubernur yang coba-coba ganti emas di atas Monas itu dengan beras ketan atau tape uli. Lucu juga sih, kalau ada yang berani kaya gitu tapi nanti emasnya ditaro di mana? Buat membangun Jakarta? Ya boleh juga sih. Tapi kayaknya itu gak mungkin terjadi dalam waktu dekat sih. Kayaknya untuk sementara ini, puncaknya monas bakal tetep terbuat dari emas.